Pitbull, anjing pengasuh atau pemburu?

REPORTED BY: Abdullatif Assalam

Pitbull, anjing pengasuh atau pemburu?

Akhir pekan lalu, anak perempuan 8 tahun asal Malang, Jawa Timur, tewas digigit anjing jenis Pitbull peliharaan orang tuanya. Ramisya Bazighah meregang nyawa usai digigit di bagian lehernya.

Menanggapi peristiwa mengenaskan tersebut, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar diskusi bertajuk “Anjing Pitbull Menggigit, Salah Siapa?” untuk memberikan edukasi kepada masyarakat agar peristiwa yang menimpa bocah yang biasa dipanggil Sasa kembali terulang.

Dosen Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKH UGM, yang juga Wakil Direktur Bidang Pelayanan Rumah Sakit Hewan Prof. Soeparwi drh. Slamet Raharjo mengatakan bahwa karakter anjing peliharaan biasanya merepresentasikan karakter dari pemiliknya.

“Pada kalangan penggemar anjing atau dog lover ada anekdot yang mengatakan bahwa karakter anjing piaraan adalah representasi karakter pemiliknya," kata Slamet, Rabu (09/08/2017).

Slamet menjelaskan, karakter setiap  anjing pedigree bisa diprediksi sesuai breed-nya. Namun kadang ada anomali karakter individu yang sangat dipengaruhi oleh pola pengasuhan saat anjing masih kecil hingga besar.

“Nah, anomali karakter individu ini sangat dipengaruhi oleh pola pengasuhan/pendidikan saat anjing masih puppy sampai dewasa muda, sehingga karakter tersebut menjadi permanen,” jelas Slamet.

Menurut dia, pada kasus anjing Pitbull di Malang yang menerkam anak kecil hingga menyebabkan kematian, belum diketahui persis riwayat anjing itu, apakah dipelihara dari kecil atau baru dimiliki ketika sudah besar. Selain itu, juga tidak diketahui pola pengasuhan anjing tersebut, termasuk kasih sayang yang diberikan ke anjing tersebut.

Anjing pengasuh atau pemburu?

Slamet menerangkan, secara umum, American Pitbull Terrier (APBT) di negara asalnya Amerika Serikat, dijuluki sebagai nanny dog, atau anjing pengasuh karena karakternya yang manis. 

Selain itu, Pitbull juga bersifat universal atau dapat berbaur akur dengan anjing breed lain, protektif terhadap keluarga/pemilik serta beberapa kelebihan lain. Seperti sifat teritori yang sangat kuat sehingga direkomendasikan sebagai anjing keluarga. 

Kondisi berbeda terjadi di Indonesia, lanjutnya, sehingga ada satu anggapan umum bahwa Pitbull adalah satu jenis anjing yang galak dan agresif.

“Bahkan sampai ditolak/tidak diakui sebagai breed resmi oleh Perhimpunan Kinologi Indonesia (Perkin), sehingga banyak yang merekomendasikan untuk tidak memelihara anjing Pitbull,” papar Slamet. 

Asumsi semacam ini, lanjut Slamet, terbentuk di masyarakat karena sebagian besar anjing Pitbull di Indonesia digunakan sebagai anjing pekerja. Seperti dijadikan anjing aduan untuk diadu dengan babi hutan (celeng/bagong) atau diadu dengan anjing lain serta sebagai anjing untuk lomba adu otot.

Dengan adanya asumsi tersebut, katanya lagi, sebagian besar masyarakat yang memelihara anjing Pitbull dijadikan sebagai anjing penjaga rumah yang selalu dikandangkan di kandang yang biasanya berukuran relatif kecil.

Ia mengatakan, sebagai anjing keluarga dan anjing pekerja yang seharusnya setiap hari beraktivitas fisik secara cukup, ketika dikandangkan terus-menerus biasanya anjing Pitbull akan mudah mengalami bad mood, bosan/boring yang dapat memicu perilaku bermasalah, termasuk menjadi lebih agresif karena sifat teritorinya.

Slamet menduga, anjing Pitbull yang membunuh Sasa sedang dalam kondisi bad mood karena suatu alas an yang belum diketahui secara pasti sehingga melakukan serangan mematikan. Sebagai anjing dengan naluri pemburu, Pitbull akan menyerang siapa saja, termasuk anak kecil, yang memasuki wilayah teritorinya.

Ia menambahkan, ketika menggigit korban, Pitbull tidak akan melepaskan gigitannya jika mendapatkan perlawanan. “Sebab, semakin diganggu, gigitannya justru semakin kuat dan semakin tidak mau melepaskan gigitan, yang diduga menjadi penyebab meninggalnya si bocah yang digigit,” terang Slamet. 

Konsekuensi Hukum

Sementara itu, Peneliti Bidang Hukum Kesehatan UGM, Tri Aktariyani mengingatkan agar setiap masyarakat yang memiliki hewan peliharaan wajib menjaganya dengan baik. Sebab, kesalahan dalam pemeliharaan yang mengakibatkan jatuh korban akan dituntut secara hukum. 

Dalam ketentuan baik Kitab Undang-Undang Hukum Perdata/Pidana, kata dia, memiliki konsekuensi bagi pemilik hewan piaraan yang tidak menjaga dengan baik hewannya.

“Pada klausa Pasal 490 KUH Pidana, Sang pemilik bisa kena kurungan penjara selama 6 hari/denda, apabila hewan piaraannya melakukan perbuatan yang merugikan orang lain seperti menyerang, menerkam, melukai, mengigit, kotorannya mengotori lingkungan dan seterusnya dan sebagainya (membawa kerugian),” kata Tri menjelaskan.

Namun, katanya melanjutkan, jika korban merasa tidak puas atau mengalami kerugian yang cukup parah, bisa mengajukan gugatan secara perdata yang harus memenuhi unsur perbuatan melawan hukum. Seperti, Harus ada perbuatan (positif maupun negatif); Perbuatan itu harus melawan hukum; Ada kerugian; Ada hubungan sebab akibat antara perbuatan melawan hukum itu dengan kerugian; dan Ada kesalahan.

“Jadi, jaga baik-baik hewan piaraan Anda. Agar tidak malah merugikan diri Anda sendiri nantinya,” tandas Tri.

Tak mudah datangkan senjata api dalam jumlah besar
Menjelaskan relasi jiwa dan raga
Sentimen positif pada saham perbankan
Melestarikan eksistensi budaya Betawi
Calon dari PDIP kandidat kuat pendamping Gus Ipul
Fetching news ...