Siswa SD hamili pacar jadi keprihatinan

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Siswa SD hamili pacar jadi keprihatinan “Anak-anak lebih cepat dewasa karena disuguhi tontonan yang tidak sesuai umurnya.” - Abdul Fikri Faqih

Kasus siswa Sekolah Dasar (SD) di Tulungagung, Jawa Timur, yang menghamili pacarnya menjadi keprihatinan Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih dengan mengatakan bahwa kejadian ini sebagai tamparan keras bagi dunia pendidikan Indonesia.

Menurut Faqih, tindakan anak SD berusia 13 tahun yang menghamili pacarnya—siswi SMP berusia sepantar—itu tak layak dicontoh oleh siapa pun.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menyeru pemerintah supaya menerapkan amanat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter ke dalam materi pembelajaran di sekolah.

“Regulasi ini sudah ada, tentu bukan hanya sekadar jadi tumpukan dokumen, tapi diterapkan untuk mencegah makin parahnya degradasi moral peserta didik kita,” tegas Fikri di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (24/5/2018).

Politisi PKS itu juga meminta kasus tersebut tidak diekspos terlalu berlebihan, karena bukan contoh yang baik bagi anak-anak seusianya. 

“Cukup menjadi pembelajaran bagi setiap orang tua agar memberi perhatian terbaiknya pada anak, terutama di masa pematangan usia dan tumbuh kembang anak menjelang akil baligh mereka,” imbuhnya.

Dia mengakui, usia akil baligh anak-anak zaman sekarang menjadi lebih cepat, karena beragam faktor. Di antaranya asupan makanan dan input media yang dengan bebas mudah diakses oleh anak, seperti televisi dan Internet. “Anak-anak lebih cepat dewasa karena disuguhi tontonan yang tidak sesuai umurnya,” tambah dia.

Selain itu, data pendidikan juga menunjukkan bahwa Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk jenjang Sekolah Dasar (SD) di Indonesia, terutama di daerah melebihi 100 persen. “Angka lebih dari 100 persen ini menunjukkan, masih banyak siswa SD yang bersekolah di luar usia 7-12 tahun, atau di atas itu. Contohnya anak SD di Tulungagung yang masih kelas 5 SD, namun usianya sudah 13 tahun,” katanya.

Menurut Fikri, untuk menilai  tingkat kedewasaan  anak sebaiknya tidak dilihat dari kelas berapa ia sekolahnya. “Lihatlah usianya, 13 tahun ini sudah baligh pada umumnya, jadi tentu mesti ada arahan khusus. Misal bagaimana pergaulan dengan lawan jenis agar sesuai tuntunan akhlak dan agama,” terangnya.

Di sisi lain, politisi dapil Jawa Tengah itu meminta kedua anak itu dilindungi oleh pihak terkait. “Hal ini demi memperbaiki kondisi psikologis kedua anak tersebut dan memberi kesempatan orang tua kedua anak itu mencari solusi terbaik secara kekeluargaan,” ujarnya.

Tak sekali berhubungan badan

Sebelumnya, bocah Sekolah Dasar (SD) di Tulungagung, Jawa Timur menghamili pacarnya yang baru duduk di di bangku  Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kedua bocah tersebut mengaku tak hanya sekali melakukan hubungan tersebut.

Keduanya sebut saja Juan (13) dan Ika (13) juga mengaku kerap kali berhubungan intim. Hubungan keduanya juga sebelumnya mendapat tentangan keras dari para tetangga. 

Awal mula kehamilan diketahui oleh pihak sekolah Ika, Sabtu (19/05/2018). Pihak sekolah melihat kondisi tubuh Ika kurang sehat dan membawanya ke puskesmas terdekat. Setelah diperiksa, pihak sekolah terkejut karena petugas media puskesmas mengatakan Ika positif hamil 6 bulan. 

Kejadian ini lalu dilaporkan kepada orang tua pihak perempuan. Kedua orang tua Ika sempat meradang, lalu mendatangi rumah kedua orang tua Juan.

Saat didesak oleh keluarganya, Juan blak-blakan mengakui hubungan asmara dengan kekasihnya, dan telah beberapa kali melakukan hubungan seks.

Kedua keluarga akhirnya sepakat untuk menikahkan mereka. Namun karena usia mereka terlampau masih muda, pihak Kantor Urusan Agama (KUA) menolak menikahkan dua bocah itu.

Permasalahan semakin rumit karena KUA menolak untuk menikahkan mereka. Kedua keluarga bocah tersebut harus menanggung malu akibat perbuatan anak mereka. Karena ditolak oleh KUA, keduanya harus mendapatkan dispensasi dari Pengadilan Agama.

Namun yang paling mencengangkan adalah pernyataan dari Ayah bocah SD yang hamili pacarnya tersebut, Ia dengan enteng mengatakan bahwa perbuatan yang dilakukan anaknya adalah bagian dari uji kejantanan sang putra.

Hal ini semakin memicu kekesalan warga. Padahal, sebelum kehamilan, warga telah berungkali mengingatkan orang tua Juan dan IKA bahwa dua sejoli ini sering berdua-duaan.

“Bapaknya bilang, biar jadi bahan percobaan burung anaknya yang baru sunat. Kalau sudah hamil begini kan baru tahu rasa dia,” ujar YG, salah satu tetangga.

Perlu diketahui bahwa Juan pernah dua kali tidak naik kelas, sehingga meskipun sudah masuk usia puber dia masih di SD, sedangkan Ika sudah masuk SMP.

Cara cerdas memilih skin care yang aman untuk kulit
Erick Thohir sebut ibu-ibu paling sulit dipolitisasi
PSI ajak perempuan tak bela politisi Sontoloyo dan Genderuwo
Pertiwi deklarasi dukung Jokowi-Ma'ruf
Ini alasan mengapa harus puasa sebelum tes darah
Apakah pornografi mempengaruhi kualitas hubungan Anda dan pasangan?
Dituduh Megawati tak punya visi-misi, PKS: mustahil dong
Fahri Hamzah dorong pemuda keliling dunia
PKS usul kubu Prabowo-Sandi duduk bersama
PPP muktamar dukung Prabowo-Sandi
Fahri minta Prabowo tak kendor kritik Jokowi
KPK didesak periksa politisi PAN terkait percaloan anggaran daerah
Kubu Jokowi sebut tim ekonomi Prabowo lemah
Fahri Hamzah prihatin dengan kubu Prabowo
Ingin selamat, Parpol lain bisa tiru Demokrat
Fetching news ...