Ratusan mushaf kuno Indonesia dimiliki asing

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Ratusan mushaf kuno Indonesia dimiliki asing

Indonesia menjadi salah satu tempat perburuan manuskrip Al Quran dan manuskrip lainnya oleh negara-negara serumpun Melayu. Fakta tersebut terungkap pada seminar Migrasi Munuskrip Al Quran di Asia Tenggara yang diselenggarakan Lajnah Pentashihan Mushaf Al Quran (LPMQ) Kementerian Agama, di Jakarta. 

Indonesia menjadi tujuan utama karena memiliki sebaran manuskrip merata dari Aceh hingga Nusa Tenggara Barat dan Maluku. “Kurang lebih sudah 700 manuskrip Al-Quran kuno Aceh keluar ke negara tetangga. Itu baru manuskrip Al-Quran, belum manuskrip Islam lainnya. Dan itu baru dari Aceh, belum lagi dari daerah lainnya di Indonesia,” ungkap Hakim Syukrie yang meneliti Mushaf Nusantara di Malaysia, Kamis (30/11). 

Di Malaysia, ungkapnya, sebagian besar manuskrip Al Quran-nya berasal dari Indonesia. Beberapa tempat penyimpanan manuskrip Al Quran nusantara antara lain di Islamic Art Museum of Malaysia, Perpustakaan Negara, museum-museum, serta kolektor naskah. 

Selain di Malaysia, manuskrip Al-Quran Indonesia juga banyak berada di Pattani. Hal tersebut diungkap oleh Ali Akbar, pakar mushaf kuno yang meneliti di Thailand. “Thailand Selatan, selain menjadi tempat ‘perburuan’, juga melakukan ‘perburuan’ naskah dari negara kawasan, di antaranya Indonesia,” ungkapnya. 

Ali Akbar mengungkapkan bahwa 90% manuskrip Al Quran di Pattani dan Yala Thailand Selatan diduga kuat berasal dari Indonesia. “Berdasarkan perbandingan atas ragam hias dan informasi dari tetua masyarakat di sana, mushaf yang ada di Thailand selatan berasal dari Indonesia,” ujarnya. 

Mushaf-mushaf tersebut awalnya dibawa oleh masyarkat Indonesia yang menyebar ke Thailand Selatan. Selain itu, ada juga yang dibeli dari Indonesia oleh para kolektor naskah. Uniknya, manuskrip Tailand Selatan juga diperjualbelikan ke negara lain, seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. 

Manuskrip Al Quran  menyimpan sejarah perkembangan ilmu kequranan, seperti ilmu rasm, tanda baca, tanda wakaf, dan perbedaan qiraat. Tentunya, selain kandungan ilmu kodikologinya. Dengan adanya mushaf kuno Al Quran, umat Islam zaman sekarang mengetahui bagaiman orang membaca Al Quran pada masa lalu. 

Hal tersebut, menurut Ali Akbar, bisa menelisik akar tradisi baca Al-Quran masyarakat Indonesia. Jika manuskirp-manuskrip itu berada di negeri orang, maka para pelajar Indonesia akan kesulitan mengakses data tersebut. Pada gilirannya, hal itu bisa memutus mata rantai sejarah Islam di Indonesia.

Temuan yang sama disampaikan peneliti lainnya, Musaddad. Bahkan, dia harus membayar hanya untuk sekadar memfoto naskah mushafnya.

“Untuk sekali mengambil gambar foto naskah di salah satu tempat, kami diharuskan membayar 5 Sen. Itu sama saja kami harus membayar tiga ribu Sen untuk bisa meneliti satu mushaf. Padahal itu naskah berasal dari Indonesia,” ungkap Musadad yang melakukan penelitian mushaf Al Quran Nusantara di Brunei.

Menurutnya, untuk memperkuat akar Identitas Melayu, Sultan Brunei sudah memberikan titah untuk mengumpulkan manuskrip Al Quran.

Kamboja kagumi Pancasila
Europalia akan putar puluhan film Indonesia
Kekalahan Novanto di praperadilan
Menanti aksi nyata Jokowi  untuk Palestina di sidang OKI
Mengenang AM Fatwa
Fetching news ...