Ideas Law

Habib Bahar dan tirani modal budaya

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Habib Bahar dan tirani modal budaya Bahar bin Smith

Penceramah Bahar bin Smith atau sering dikenal sebagai Habib Bahar resmi ditetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan dalam kasus penganiayaan di Direktorat Kriminal Umum Polda Jawa Barat, di Bandung, Selasa (18/12) malam.

Bahar ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap MK Zaki (17) dan CAJ (18). Polisi menjerat Habib Bahar dengan pasal berlapis yakni Pasal 170 ayat (2) KUHP, Pasal 351 ayat (2) KUHP, Pasal 333 ayat (2) KUHP, dan Pasal 80 Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Kabar ini menarik dicermati karena beberapa politisi menggeser kasus ini sebagai kriminalisasi ulama. Puluhan anggota FPI pun menggelar aksi unjuk rasa di depan Mapolda Jabar untuk mendukung Bahar yang mereka sebut sebagai "guru kita".

Dalam kasus ini, polisi menetapkan empat orang lain sebagai tersangka yakni Habib Hamdi, Habib Husen Alatas, Sogih, Agil Yahya alias Habib Agil, dan H Muhamad Abdul Basit Iskandar.

Menurut keterangan polisi, CAJ dan MKUAM mengalami lebam di muka dan bagian tubuh lainnya. Selain mengalami penganiayaan, CAJ dan MKUAM juga diadu berkelahi. Keduanya diciduk untuk digebuki gara-gara mengaku-ngaku sebagai Habib Bahar.

Tak cukup dipukuli, rambut korban juga digunduli oleh salah seorang santri atas perintah Bahar.

Sekitar pukul 23.00 WIB, keduanya diperbolehkan pulang. CAJ dibawa pulang oleh orang tuanya, sementara MKUAM diantar oleh salah seorang santri. Dalam perjalanan pulang, keduanya berobat dulu ke sebuah rumah sakit.

Kasus dugaan penganiayaan tersebut terjadi pada 1 Desember 2018 di pesantren milik Bahar, Tajul Alawiyyin di Pabuaran, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kasus penganiayaan ini baru dilaporkan secara resmi ke Polres Bogor pada Rabu (5/12).

Tirani modal budaya

Tindakan Bahar bin Smith yang main hakim sendiri dengan mengerahkan sumber daya yang dimiliki berupa pengikut dan strata sosial (muslim) level atas merupakan cara primitif dan terbelakang yang hanya patut dilakukan di rimba raya. Tak sepatutnya pengajar agama, yang seharusnya menjadi penjaga etika dan hukum, justru mengajarkan pelanggaran dan unjuk keangkuhan serta amarah.

Di tangan Bahar, modal budaya berubah menjadi alat untuk menindas. Modal budaya yang dimiliki Bahar yang paling jelas adalah dia terlahir dalam klan Alawi atau Alawiyyin. Pesantrennya pun dinamai Tajul Alawiyyin yang berarti ‘mahkota klan Alawi’.

Alawiyyin adalah sebutan bagi kaum atau sekelompok orang memiliki pertalian darah dengan Nabi Muhammad saw. Sebutan lain untuk Alawiyyin adalah Ba Alawi. Ba Alawi ialah gelar yang diberikan kepada mereka yang memiliki keturunan dari Alawi bin Ubaidullah, yang nasabnya sampai kepada Husain putra Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Muhammad saw.

Awal terbentuknya kelompok keluarga Alawiyyin disebut bermula dari Imam Ahmad al-Muhajir, yang berangkat meninggalkan Basrah di Irak bersama keluarga dan pengikut-pengikutnya pada tahun 317H/929M untuk berhijrah ke Hadramaut di Yaman Selatan.

Cucu Imam Ahmad yang bernama Alawi merupakan orang pertama yang dilahirkan di Hadramaut. Oleh karena itu, anak-cucu Alawi digelari dengan sebutan Ba Alawi, kependekan dari Bani Alawi (keturunan Alawi). Panggilan Ba Alawi juga bertujuan memisahkan kumpulan keluarga ini dari cabang-cabang keluarga lain dari keturunan Nabi Muhammad.

Ba Alawi yang bermula di Hadhramaut ini telah memiliki banyak keturunan dan pada saat ini banyak di antara mereka menetap di segenap pelosok Nusantara, India, dan Afrika.

Seorang Ba Alawi dikenali dengan sebutan Sayyid, sedangkan sebutan Habib adalah panggilan khas lainnya kepada kelompok keluarga ini. Di Indonesia, sebutan habib lebih populer. Maka, kepada Bahar, orang memanggilnya dengan Habib Bahar.

Anggota klan ini memiliki posisi sangat terhormat di kalangan umat Islam. Lebih mudah bagi mereka untuk mendapatkan banyak jemaah ketika menjadi ustaz daripada orang pribumi meskipun sudah mati-matian mempelajari Islam.

Di kalangan Islam tradisional bahkan ada jargon-jargon yang sangat dipercaya untuk menunjukkan keunggulan klan ini atas manusia yang lain. Misalnya, “Seorang habib yang bodoh lebih mulia daripada 70 orang alim (dalam makna ‘berilmu’); “Hubungan darah daging kepada Rasulullah saw tidak tertandingi apa pun”; “Habib lebih mulia daripada orang alim; pasalnya, kalau gila, habib tak kehilangan ikatan darah, sedangkan orang alim akan kehilangan ilmunya”; dan ungkapan-ungkapan lain sejenis.

Oleh karena itu, dalam kultur tradisional, seorang ustaz di pesantren bisa mencium tangan muridnya yang masih kanak-kanak ketika salaman karena sang murid adalah seorang habib; padahal, lazimnya, seorang muridlah yang mencium tangan guru.

Dengan modal budaya yang demikian besar tak mengherankan jika anggota klan ini kemudian mendapatkan kemudahan lebih untuk mengakses modal-modal lain, termasuk modal ekonomi, dibandingkan warga pribumi yang berdarah merah belaka.

Seharusnya, peluang ini digunakan untuk menjadi yang terdepan dalam kemaslahatan, bukan unjuk keangkuhan, kata-kata kasar dan kekerasan bak seorang tiran seperti yang ditunjukkan Bahar ini.

Jejak kekerasan Bahar

Pemimpin Majelis Pembela Rasulullah, Habib Bahar bin Smith, memiliki rekam jejak dalam beberapa aksi kekerasan.

Tahun 2010 Bahar pernah memimpin penyerangan jemaat Ahmadiyah di Kebayoran Lama, Jaksel. Habib berambut pirang gondrong ini sempat ditahan atas kasusnya itu.

Sudah sejak lama, Bahar dipercaya untuk “membimbing” ormas-ormas kepemudaan. Dia biasa disebut sebagai Habib Bule karena fisiknya yang kebule-bulean.  Sejak dulu dia terbiasa memberikan ceramah ke ormas-ormas seperti FPI, FBR dan Forkabi.

Selain itu, Habib Bahar juga pernah terlibat dalam aksi di Makam Mbah Priok, Tanjung Priok, pada 2010.

Bahar juga pernah terlibat aksi sweeping di Kafe De Most, Jl Veteran Raya, Bintaro, Jakarta Selatan. Dia bertindak sebagai komandan aksi tersebut. Ia pula yang mengkoordinir massa yang membawa senjata tajam.

Namun, belum sampai ke lokasi, polisi yang mendapat informasi adanya aksi sweeping di Kafe De Most langsung melakukan pengamanan. Bahar berhasil ditangkap setelah melakukan aksi sweeping tersebut dan dijadikan tersangka.

Sudirman nyatakan perpanjangan kontrak Freeport bukan kemauannya
PAN izinkan Gubernur Riau dukung Jokowi asal tak masuk timses
PAN akan beri bantuan Ketum PA 212
Ketum PA 212 undang pimpinan parpol
IHSG kembali lewati level 6.500
Gerindra: Jokowi Pilgub DKI dibiayai keuntungan lahan Prabowo
BPN nilai Prabowo sudah detail
Slamet Ma'arif tegaskan akan bersikap kooperatif pada pemeriksaan selanjutnya
Jokowi dilaporkan ke Bawaslu, TKN : Gimmick politik saja
Kubu Jokowi: Tema debat ketiga Ma'ruf Amin jagonya
Demonstran ancam duduki KPK jika tak minta maaf ke Enembe
PDIP sebut biaya kampanye Jokowi di Pilgub DKI Jakarta untuk iklan Prabowo
Kubu Jokowi nilai kubu Prabowo inkonsisten soal penguasaan lahan
DKPP berhentikan tiga penyelenggara Pemilu
Bamsoet: Milenial jadi target perang proxy narkoba
Fetching news ...