Jokowi belum temukan solusi akurkan SBY-Megawati

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Jokowi belum temukan solusi akurkan SBY-Megawati

Kepala Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean mengungkapkan Jokowi belum menemukan solusi untuk mencairkan hubungan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)- Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Ferdinan menyebutkan Jokowi sempat akan membuat klub presiden supaya hubungan para mantan presiden lebih harmonis, tetapi rencana itu tak kunjung terealisasi.

"Ini selalu dikomunikasikan oleh Pak Jokowi tapi belum ada solusinya. Makanya, dulu sempat muncul wacana klub presiden, tetapi akhirnya itu tak kunjung terealisasi," kata Ferdinand saat ditemui wartawan Rimanews di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (18/07/2018).

Selain itu, menurutnya, SBY sempat berupaya memperbaiki hubungannya dengan Megawati melalui mendiang Taufiq Kiemas saat dirinya menjadi presiden. Tetapi, upaya mencairkan hubungan dengan Ketum PDIP itu tidak pernah berhasil.

Ketidakharmonisan hubungan SBY-Megawati menjadi penghalang dukungan Demokrat kepada koalisi Jokowi.

"Terutama hubungan Pak SBY dengan Bu Mega jadi barrier yang cukup tinggi bahkan tebal yang harus ditembus dalam koalisi itu," katanya.

Ferdinand mengatakan hubungan Megawati dan SBY harus harmonis untuk memikat Demokrat supaya memutuskan bergabung dengan koalisi pendukung Jokowi tersebut. Pasalnya, koalisi tersebut dipimpin oleh Megawati. 

"Karena kan koalisi ini dipimpin oleh PDIP. Sehingga, kalau Pak SBY ada di situ sebagai anggota koalisi tentu hubungan beliau dengan Bu Mega jadi pertimbangan," lanjut Ferdinand.

Ferdinand membantah hubungan SBY-Megawati membuat Partai Demokrat lebih intens bertemu dan berkomunikasi terkait Pilpres bersama Partai Gerindra, PKS dan PAN. Ia mengatakan belum ada kesepakatan politik antara partainya dengan Gerindra.

Sebelumnya, benih-benih perseteruan SBY-Megawati telah tercium pada tahun 2003, saat tersiar kabar bahwa SBY akan maju di Pemilihan Presiden 2004. Pada saat itu SBY menjabat sebagai Menko Polkam. Kecurigaan Megawati terhadap manuver politik SBY semakin jelas karena SBY sering tampil mensosialisasikan Pemilu 2004. 

Perang kubu Megawati dan SBY semakin terlihat dengan mundurnya SBY dari kursi menteri dan membentuk Partai Demokrat. Di Pilpres 2004, Megawati dan SBY saling bertarung untuk menduduki kursi presiden. Saat itu SBY didampingi oleh Jusuf Kalla, sementara Megawati didampingi oleh Hamzah Haz. 

Kurang potennya Ma'ruf Amin dan ramalan Jokowi bakal kalah karena sang wakil
Wartawan tewas naik 14 persen di sepanjang 2018
Negara tak akan punah karena Prabowo kalah
KPU: Kotak suara kardus hemat 70 persen
Prabowo sentil elit koalisi belum nyumbang, PKS: Kami otomatis bantu
Kubu Prabowo nilai jargon wong cilik Jokowi hanya untuk komoditas politik
KPU harap anggaran pemilu dapat digunakan mulai Januari 2019
Demokrat nilai tuduhan Wiranto terkait oknum perusak salah dan terburu-buru
Farhat Abbas minta PSI dikeluarkan dari Tim Kampanye Nasional
PPP: Yang kaget kotak suara kardus mungkin tak hadir rapat
Rusia perkuat pasukan rudal dengan ratusan senjata baru
Mobile Legends rilis karakter hero baru
BRI beberkan dua cara hadapi fintech
Bangladesh belajar program keluarga harapan ke Indonesia
Pelemahan rupiah dan sentimen dagang AS halangi pergerakan IHSG
Fetching news ...