Politisi berbondong-bondong ke NasDem, ada apa?

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Politisi berbondong-bondong ke NasDem, ada apa?

Politisi PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari mempertanyakan banyaknya politisi Senayan yang lompat ke partai NasDem (Nasional Demokrat).

“Ada daya tarik apa di Partai NasDem, sehingga banyak politisi dari partai lain pindah ke partai tersebut. Ini perlu dicermati lebih dalam," ujarnya, pada diskusi "Bacaleg: Lompat Partai, Banyak PAW, dan Gangguan Kinerja" di Gedung Parlemen, Jakarta, Kamis (19/07/2018).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, menurutnya ada belasan politisi pindah partai dan menjadi bacaleg dari partai NasDem. Para "politisi migran" ini sudah memiliki basis pendukung di daerah pemilihan masing-masing.

Mereka antara lain, Okky Asokawati dari PPP menjadi bakal calon untuk Partai NasDem, Vena Melinda dari Partai Demokrat ke Partai NasDem, Krisna Mukti dari PKB ke Partai NasDem.

Kemudian, politisi dari Partai Hanura, yakni Arif Suditomo, Fauzih Amro, Rufinus H Hutauruk, Dossy Iskandar, dan Dadang Rusdina, menjadi bakal calon anggota legislatif Partai NasDem.

Anggota Komisi XI DPR ini menilai banyaknya politisi yang pindah partai dan menjadi bakal calon anggota legislatif dari partai lain akan memperburuk kinerja DPR.

"Saat ini kinerja DPR RI belum baik. Jika ditambah dengan banyaknya politisi yang pindah partai dan menjadi bacaleg dari partai lain, maka kinerja DPR akan lebih buruk," kata Sundari.

Menurut dia, kinerja DPR sudah lama kurang baik meskipun tidak ada "migrasi politisi". "Apalagi saat ini terjadi migrasi politisi ke partai politik lain, maka akan lebih buruk," ucapnya.

Dia menilai anggota DPR yang pindah ke partai politik lain, sesuai dengan amanah UU Pemilu, harus mundur dari keanggotaan di DPR dan dari partai politiknya.

"Konsekuensinya dilakukan pergantian antar waktu. Padahal, proses PAW ini lama," katanya.

Sebelumnya, Ketum PAN Zulkifli Hasan menyebut calon legislatif yang pindah partai sudah seperti pemain sepak bola. Pasalnya, perpindahan tersebut melibatkan uang “transfer” dengan nilai miliaran rupiah

Terkait Lucky Hakim, Zulkifli mengatakan jumlah transfer yang diterima Lucky Hakim yaitu senilai Rp2 Miliar. Dia mengklaim mengetahui nominal tersebut dari pesan singkat yang ia terima.

"Kalau Lucky, transfer Rp 2 Miliar dari 5 Miliar udah diterima. Transfer 5 Miliar, tapi udah diterima 2 Miliar. Dia sms ke saya, Ada WA-nya, selain karena PAW (pergantian antarwaktu) ya," lanjutnya.

Zulkifli juga mengungkapkan dana besar yang diterima caleg-caleg yang pindah tersebut kedepannya akan berdampak buruk pada politik Indonesia. Ia mengatakan dana pinangan itu akan memicu suburnya korupsi di Indonesia.

"Saya rasa kehancuran akan datang, ya, kalau semua diukur pakai uang; kalau pemilihan bupati pakai uang, pemiliham gubernur uang, pilihan apa-apa uang. Ya saya kira pasti korupsi merajalela," ujarnya.

Akan tetapi, Lucky membantah kepindahannya ke Nasdem karena tawaran dana. Ia menyebutkan tidak nyaman bersama PAN karena kerap kali menerima ancaman dipecat.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Arsul Sani mengingatkan politisi yang menerima transfer uang untuk pindah partai supaya melapor ke KPK. Dia menilai uang tersebut adalah bagian dari korupsi, yakni masuk kategori gratifikasi.

"Teman-teman yang pindah dan kemudian dia menerima sesuatu, transfer pembiayaan itu harus lapor KPK. Itu gratifikasi loh. Misal, saya pindah dan nerima sesuatu dari partai baru atau siapa sajalah. Itu kan saya harus lapor KPK. Kalau tidak bisa jadi kasus hukum," kata Arsul saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (19/07/2018).

Kurang potennya Ma'ruf Amin dan ramalan Jokowi bakal kalah karena sang wakil
Wartawan tewas naik 14 persen di sepanjang 2018
Negara tak akan punah karena Prabowo kalah
KPU: Kotak suara kardus hemat 70 persen
Prabowo sentil elit koalisi belum nyumbang, PKS: Kami otomatis bantu
Kubu Prabowo nilai jargon wong cilik Jokowi hanya untuk komoditas politik
KPU harap anggaran pemilu dapat digunakan mulai Januari 2019
Demokrat nilai tuduhan Wiranto terkait oknum perusak salah dan terburu-buru
Farhat Abbas minta PSI dikeluarkan dari Tim Kampanye Nasional
PPP: Yang kaget kotak suara kardus mungkin tak hadir rapat
Rusia perkuat pasukan rudal dengan ratusan senjata baru
Mobile Legends rilis karakter hero baru
BRI beberkan dua cara hadapi fintech
Bangladesh belajar program keluarga harapan ke Indonesia
Pelemahan rupiah dan sentimen dagang AS halangi pergerakan IHSG
Fetching news ...