Mengapa aku selalu diselingkuhi?

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Mengapa aku selalu diselingkuhi?

Usai kelas, seorang mahasiswi segera mendekati saya meminta waktu untuk berbicara. Sambil berkemas memasukkan sejumlah buku ke dalam tas, saya mempersilakannya untuk membawa kursi ke samping meja depan.

Bersamanya, ikut pula dua orang lainnya: satu mahasiswa dan satu mahasiswi. Tampaknya mereka adalah sahabat karib. Jadilah kami berempat di kelas yang sunyi itu setelah yang lain pulang.

“Ada gak sih, pak, lelaki yang baik di dunia ini!?” mahasiswi bernama Mahkota (22) itu membuka suara.

“Jadi, gimana intinya?” kata saya sambil tersenyum, diikuti tawa lepas dua mahasiswa tadi.

Mahasiswi tingkat akhir ini pun mengaku bahwa dia tak percaya setelah secara bertubi-tubi menjadi korban perselingkuhan. Beberapa kali pacaran, dia mengaku selalu putus karena sang pacar kepincut perempuan lain.

Penyelewengan adalah salah satu masalah utama dalam sebuah hubungan, tak hanya kala pacaran tetapi juga saat menikah. Karyawan di perusahaan pun tak sedikit yang selingkuh dengan bekerja secara diam-diam untuk perusahaan lain!

“Yang terakhir ini, dia selingkuh sama temannya sendiri. Saya juga kenal baik dengan dia,” katanya.

Setelah menceritakan kisahnya dengan cukup lengkap, saya katakan bahwa kesalahan tidak semata-mata ada pada pihak yang melenceng dari komitmen; kita yang diselingkuhi juga mempunyai kesalahan mendasar, yakni tidak mampu menilai kualitas seseorang.

Saat menghadapi masalah, orang biasanya melakukan dua hal: menyalahkan orang lain atau menganggap diri sebagai korban. Yakinlah bahwa keduanya tidak akan menyelesaikan apa pun. Kini saatnya berpikir apa yang akan dilakukan selanjutnya; mengapa saya bisa salah pilih?

Banyak orang yang mengalami kecacatan moral berkeliaran memakai topeng. Secara lebih positif, para ahli menggunakan istilah “defensive mask” alias topeng pertahanan diri. Menunjukkan diri yang palsu di depan umum ini digunakan oleh orang yang penuh masalah untuk bertahan hidup. Mereka berakting, berpura-pura dan berperan laiknya pelakon di atas panggung, menjadi apa saja bisa.

Bagaimana kita bisa mengenali mereka?

Tanyaan di atas adalah yang paling fungsional untuk menghindarkan mereka berada di dekat kita, apalagi menjadi pasangan. Amit-amit!

Ketika membahas tentang memilih pasangan, kita sering disuguhi fatwa bahwa calon harus bagini-begitu, dengan sederet kualitas prima. Kalau mau berkhayal, boleh-boleh saja. Akan tetapi, lamunan akan tetap berada pada tempatnya, yakni di alam gaib. Kita harus bangun, karena saat ini kita hidup di alam nyata. Mari membuka mata.

Ketidakmampuan mengenali jati diri “true self” seseorang adalah karena kita buta terhadap diri sendiri. Ada ungkapan menarik dari tokoh sufi Yahya bin Muadz Ar-Razi, “Siapa mengenal jati diri, bakal mengenal Tuhannya”. Apabila Tuhan yang Immaterial saja dapat dikenali, tentu lebih mudah mengenali makhluknya yang zahir.

Manusia memiliki kecenderungan untuk berkumpul dengan sesamanya. Terkait kasus perselingkuhan, bukan berarti dia diselingkuhi karena dia sendiri tukang selingkuh, tetapi keduanya kemungkinan pemakai topeng. Yang pertama memakai topeng untuk (mungkin) menyembunyikan kecanduan cintanya, yang kedua memakai topeng untuk mengalihkannya dari batin yang kesepian, kosong.

Akar kesuksesan hubungan kita dengan orang lain terletak pada bagaimana kita menjalin hubungan dengan diri sendiri. Harmonisasi antara dimensi fisik, emosional, intelektual, mental dan spiritual pada diri kita menjadi kunci. Potensi keseimbangan kelima elemen tersebut akan tumbuh secara baik dan normal pada anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang fungsional: mereka mencintai dan merawat tubuhnya, mafhum dengan perasaan dan cara mengungkapkannya, nalarnya bekerja dengan optimal, mentalitasnya kuat, dan memiliki kualitas spiritualitas yang kokoh.

Manusia yang utuh seperti itulah yang dapat dengan cermat mengenali kualitas seseorang, karena dirinya sendiri bermutu tinggi. Orang yang level intelektualnya tinggi pasti mudah mengenali siapa yang pintar dan bodoh, bahkan mungkin hanya dari beberapa kalimat yang dilontarkan seseorang. Dibutuhkan fotografer profesional untuk mengenali cacat sebuah gambar yang tak mungkin tampak di mata orang awam. Secara lebih dramatis, dibutuhkan mata Qais untuk menggila-gilai kecantikan Laila.

Sebaliknya, orang yang tidak menerima dan merawat tubuhnya dengan cara saksama, tak tahu cara mengungkapkan perasaan, kecerdasannya memble, mentalitasnya kedodoran, dan spiritualitasnya bobrok akan mengalami kesulitan menentukan pasangan yang baik.

Karena tidak mencintai tubuh sendiri dan merawatnya, dia lantas kurang pandai menjaga pasangan. Sebab dia buta dengan jenis perasaan dan cara mengungkapkannya, dia lalu kesulitan memahami perasaan orang lain. Kecerdasan yang pas-pasan akan menyebabkannya mudah ditipu, dibodohi dan dimanipulasi. Mentalitasnya yang lemah membuat cara pandangnya menjadi kabur. Akibat kekosongan spiritual, kesadarannya terhadap aneka pertanda menjadi rendah.

PAN: penjarahan masih terjadi di Palu dan Donggala
Kubu Prabowo: Kampanye tak harus selalu pencitraan
Legislator ajak seret Myanmar ke Mahkamah Internasional
Demokrat beri masukan jelang empat tahun pemerintahan Jokowi
Panggil Kepala Daerah, kubu Jokowi nilai Bawaslu berlebihan
Peluru yang nyasar ke DPR berasal dari senjata modifikasi
Bawaslu akan panggil Jokowi-Ma'ruf, Timses: capres-cawapres sibuk
DPR dorong alokasi beasiswa korban bencana Sulteng
Ketua MKD datangi lokasi penembakan DPR
Bamsoet minta DPR RI dilapisi kaca anti peluru
Politisi Gerindra: polisi tak profesional simpulkan kasus penembakan
Polisi sebut penembak Gedung DPR berinisial I
Bupati Bekasi dan Direktur Lippo tersangka suap Meikarta
Kubu Jokowi tak tergoda kampanye negatif PKS
Demokrat tidak sanksi cuitan Andi Arief
Fetching news ...