Manusia sebagai makhluk politik

REPORTED BY: Fathor Rasi

Manusia sebagai makhluk politik

Sudah menjadi takdir manusia yang tidak bisa lepas dari politik (politicon) dalam arti luas. Sebagaimana sudah disadarkan sejak zaman dulu (abad ke-4 SM) oleh Sokrates bahwa manusia disebut sebagai "zoon piliticon." Secara harfiah "zoon" berarti hewan sedangkan politicon berarti bermasyarakat. Jadi, arti dari "zoon politicon" adalah hewan yang bermasyarakat.

Dalam konteks ini, Aristoteles menegaskan bahwa manusia secara alami tidak bisa hidup sendiri, tidak bisa mememenuhi kebutuhan dirinya sendiri, tidak bisa sempurna dan tentunya tidak bisa bahagia tanpa hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain.

Menurut teori modern, terkait dengan kodrat manusia dan dimensi sosialnya, seperti Adam Smith, menyebutkan bahwa manusia dengan istilah Homo Homini socius, yang berarti manusia menjadi sahabat bagi manusia lainnya. Adam Smith juga menyebutkan bahwa manusia sebagai makhluk ekonomi (homo economicus), makhluk yang cenderung tidak pernah merasa puas dengan apa yang diperolehnya dan selalu berusaha secara terus menerus dalam memenuhi kebutuhannya.

Sedangkan Thomas Hobbes menggunakan istilah Homini Lupus untuk menyebut manusia sebagai makhluk sosial, yang berarti manusia yang satu menjadi serigala bagi manusia lainnnya.

Teori-teori sosial di atas hanyalah sebagian dari sekian banyak teori untuk menjelaskan manusia tidak bisa hidup sendiri. Tentunya masih banyak teori-teori lain dengan menggunakan pendekatan yang berbeda baik dalam perspektif teologis, filsafat, psikologi, antropologi, budaya, dan pendekatan-pendekatan lain.

Hasil interaksi

Walaupun berbeda dari sudut pandang dan juga cara dalam melihat manusia, tetapi pada intinya memiliki kesamaan yaitu manusia selalu butuh orang lain, manusia butuh teman, manusia butuh sahabat, manusia butuh kepada manusia yang lain.

Karena adanya kebutuhan untuk bermasyarakat, maka berimplikasi pada adanya hubungan, interaksi, dan komunikasi antara satu individu dengan individu lain. Dari hasil komunikasi tersebut maka lahirlah beragam bentuk interaksi seperti kerjasama, akomodasi, asimilasi atau akulturasi. Karena adanya interaksi dan komunikasi, maka lahirlah bahasa, arsitektur, seni, dan karya-karya yang lain. Karya-karya inilah kelak disebut budaya.

Etika yang secara umum berisi dan menjelaskan tentang prinsip-prinsip nilai, juga hadir dari adanya interaksi dan komunikasi antara individu tersebut. Jadi, etika merupakan satu sistem nilai yang dapat menjadi acuan, pedoman, kerangka dasar, aturan-aturan, hukum-hukum, dan batasan-batasan dalam proses interaksi dan berkomunikasi. Sistem nilai ini ada dan muncul dari hasil kesepakatan bersama antara individu tersebut.

Oleh karena itu, nilai-nilai etika dapat berada di mana saja dan kapan saja selama manusia itu sendiri masih melakukan intekrasi dan komunikasi. Baik dalam satu bentuk komunitas yang paling kecil seperti keluarga yang terdiri dari suami istri, maupun dalam bentuk yang lebih luas seperti desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, maupun dalam satu negara, bahkan dalam satu komunitas besar yaitu antar negara.

Sebagai hasil dari kesepatakan maka bentuk dan sistem serta yang dianut oleh satu keluarga, satu komunitas, dan satu negara berbeda-beda, demikian juga dalam pelaksanaannya. walaupun ada nilai-nilai universal yang memiliki kesamaan seperti keadilan, kesetaraan, kebaikan, tetapi konsepsi dan aplikasinya bisa berbeda-beda.

Manusia sebagai subjek dan objek

Oleh karena itu, karena manusia adalah subjek sekaligus objek, dan manusialah yang melakukan interaksi-interaksi, maka manusia pula yang menentukan sebuah tatanan berjalan dengan baik atau tidak. Dan tampaknya, manusia yang hidup pada masa sekarang adalah manusia tipe pra zaman sejarah, yaitu manusia yang tidak mengenal hukum, manusia tidak mengenal tatanan sosial, manusia yang tidak mengenal sistem nilai. Jadi, manusia yang belum ter-upgrade, padahal zamannya sudah bergerak maju. Manusia yang hidup pada masa sekarang adalah manusia yang ketinggalan zaman.

Karena manusia tipe pra sejarah, maka ia tidak mampu menjawab persoalan-persoalan kekinian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Manusia yang dididik pada 10 atau 20 tahun yang lalu, ternyata tidak disiapkan untuk 50 atau 100 tahun yang akan datang, tetapi manusia yang disiakan untuk masa itu juga. Sehingga, ketika ada perubahan zaman dan pengetahuan yang begitu cepat, mereka tidak mampu mengimbangi. Ketika tidak mampu menyeimbangi, maka yang terjadi kekacuan dan ketidak beraturan.

Dr. Humaidi, MA
(Ketua ADPIKS)

Tak mudah datangkan senjata api dalam jumlah besar
Menjelaskan relasi jiwa dan raga
Sentimen positif pada saham perbankan
Melestarikan eksistensi budaya Betawi
Calon dari PDIP kandidat kuat pendamping Gus Ipul
Fetching news ...