Poligami cukup ditonton saja

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Poligami cukup ditonton saja

Poligami, lebih khususnya poligini, menjadi tema yang selalu hangat untuk dibicarakan. Pasalnya, sistem perkawinan dengan menghimpun banyak pasangan dalam satu waktu ini kerap dilakukan dengan mengabaikan perasaan perempuan, termasuk anak-anak dan keluarga besar. Padahal, perasaan adalah bagian dari eksistensi kemanusiaan.

Binatang tidak pernah tertawa dan menangis, yang menjadi bukti bahwa otak emosionalnya tidak didisain oleh Tuhan untuk berkembang seperti pada benak manusia. Perasaan ini harus dilindungi oleh segenap piranti budaya, sosial, politik, hukum hingga agama. Mengapa dalam agama kita dilarang menggunjing, mengolok, mencaci, dan kebiadaban lainnya adalah untuk melindungi perasaan manusia yang lain.

Otak yang mengendalikan perasaan berkembang jauh lebih awal daripada otak untuk berpikir. Oleh karena itu, kondisi perasaan akan sangat mempengaruhi seseorang dalam memutuskan sesuatu. Kalau perempuan tidak bahagia, kreativitas akan mampat, rumah tangga menjadi sumpek, perasaan hingga perilaku anak akan tercemar, dan secara lebih luas masyarakat akan terkena imbasnya.

Institusi pernikahan dibangun tentu saja untuk mengakomodasi perasaan baik pria maupun wanita, secara adil. Konyol apabila sistem rumah tangga hanya diarahkan untuk membahagiakan kaum pria di atas air mata derita kaum perempuan.

Kita pasti sepakat bahwa poligami pertama-tama adalah tradisi pra-Islam yang dimanusiawikan oleh agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Proses memanusiawikan perkawinan majemuk ini harus dilakukan karena tradisi tak dapat dikonfrontasi secara frontal. Jika dilawan secara agresif, hasilnya justru akan berdampak kegagalan secara masif.

Karena hakikat manusia itu progresif dalam berpikir, apa yang diperlunak oleh Islam tersebut seharusnya dapat dieliminasi di kemudian hari. Sebab, apa yang diperlunak oleh Islam tersebut memiliki kadar mudarat yang tinggi, yang berdampak pada penderitaan manusia, khususnya kaum perempuan dan anak-anak.

Kasus seperti ini yang berhasil dihapus adalah perbudakan—yang sebelum Islam legal dan Kitab Suci pun tak pernah menghapusnya. Oleh ISIS, karena teks tak pernah secara tegas menghapus, sistem perbudakan yang coba dimanusiawikan oleh Islam dihidupkan kembali. Hasilnya adalah horor bagi kemanusiaan, termasuk bagi umat Islam sendiri.

Karena memiliki mudarat yang besar terhadap perempuan, poligini pra-islam dimanusiawikan oleh Islam dengan syarat keadilan dan batasan dalam kuantitas. Selanjutnya, manusia ditakdirkan Allah untuk bergerak progresif, sehingga seharusnya dia mampu membuat sistem pernikahan dan keluarga yang sesuai dengan kondisi yang dihadapinya.

Saat jumlah kaum pria lebih banyak daripada perempuan, kaum perempuan sadar terhadap kebutuhan perasaannya, dan kemungkinan mudarat yang besar pada sistem perkawinan majemuk, orang seharusnya berani untuk menihilkan poligami. Lagipula, masyhur dikalangan kita hadits yang berbunyi, "Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya," (HR At-Tirmidzi). Bagaimana mau menjadi yang terbaik jika sikapnya mengiris-iris hati istri. 

Teks Suci tak dapat dilepaskan dari latar historisnya. Artinya, beragama itu bergerak linier ke depan, maju, dan progresif karena Islam selalu berlandaskan asbab al-nuzul: segala sesuatu ada sebab yang melatarinya sebuah hukum atau peristiwa. Karakteristik umat yang bijaksana adalah selalu meninggalkan yang buruk dan mengambil yang baik (ibrah) dari setiap peristiwa yang dihadapinya.

Perenungan atau teladan?

Adalah fakta bahwa Nabi Muhammad SAW, Sulaiman AS, Daud As, Ya’kub AS, dan Ibrahim AS adalah pelaku poligami. Apabila apa pun yang dilakukan para nabi harus diteladani, ada sejumlah tanyaan yang perlu dikemukakan.

Nabi Muhammad SAW menikah pada usia 25 tahun dengan janda beranak usia 40 tahun. Lalu apakah perjaka Muslim saat ini harus diarahkan untuk menikahi janda beranak dua? Jika demikian, bersoraklah wahai para janda!

Nabi Muhammad SAW menjalani kehidupan monogami selama sekitar 28 tahun dan kehidupan poligami selama 8 tahun setelah istrinya wafat. Bukankah untuk secara cermat jika ingin mencontoh poligami ala Rasul SAW, seorang Muslim harus menunggu istri pertama wafat atau di usia 52 tahun?

Nabi Muhammad SAW menikahi Aisyah yang berusia 9 tahun. Apakah saat ini Anda akan menikahkan atau menikahi anak usia 9 tahun, atau setelah mendapatkan haid pertamanya, demi alasan meneladani utusan Allah?

Jika peneladanan dilakukan semata-mata pada sikap yang diambil tanpa mempertimbangkan konteks zaman, budaya dan sistem sosial yang berlaku, orang beragama akan menjadi bahan lelucon: orang Islam akan menikahkan anak gadisnya begitu menstruasi dan orang Nasrani akan menikahkan anak perempuannya pada usia 12 tahun dengan duda manula, karena Maryam menikah pada usia tersebut dengan Yusuf, berusia 90 tahun dengan 6 anak. Betapa nalar harus dipaksa cuti demi mengulang atau meniru sebuah peristiwa secara membabi-buta.

Peneladanan adalah pada nilai, dan selebihnya kita jadikan pelajaran dan hikmah untuk kehidupan yang lebih baik dan bahagia.

Poligami hanya jalan keluar, bukan preferensi, sebagaimana menentukan di usia berapa kita ingin menikah. Karena preferensi, orang boleh menampiknya, sebagaimana kita boleh sepakat menampik menikahkan anak di usia 9 tahun tanpa merasa ketakutan dicap menentang Kitab Suci dan Sunah Nabi.

Banyak perenungan dari kisah nabi-nabi kita, sebagaimana banyaknya perempuan yang tak berani mengungkapkan perasaannya menolak poligami karena takut dicap bakal masuk neraka. Lidah perempuan kerap dibuat keluh untuk membahasakan penolakannya karena sedikit-sedikit suami yang ingin berpoligini beralasan karena menjalankan syariat Islam—kata “syariat” berarti ‘jalan’, jadi jalan menuju Islam pasti banyak, mengapa harus risiko yang dipilih?

Jika di zaman ini ada orang yang berpoligami, apalagi memamerkannya, cukup dijadikan tontonan saja, seperti Anda menonton pemain sirkus yang menari-nari di atas seutas tali. Tak perlu dicoba di rumah jika Anda bukan pecandu adrenalin (semua pecandu adalah manusia dengan kepribadian cacat), sebab kenikmatan merasakan ketegangannya tak sebanding rasa sakit jatuh dari tali. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Apabila seorang lelaki memiliki dua istri tetapi tidak berlaku adil di antara keduanya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring," (HR. Tirmidzi). 

Penulis: Fikriyah Rasyidi, praktisi pendidikan, alumni Program Magister Filsafat Islam pada Universitas Paramadina. 

Kamboja kagumi Pancasila
Europalia akan putar puluhan film Indonesia
Kekalahan Novanto di praperadilan
Menanti aksi nyata Jokowi  untuk Palestina di sidang OKI
Mengenang AM Fatwa
Fetching news ...