Readup

Kemalasan dan dosa besar

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Kemalasan dan dosa besar "Laziness is a secret ingredient that goes into failure." - Robert Half

Kemalasan adalah kondisi kegalauan hati yang menindas yang begitu menekan pikiran atau budi seseorang sehingga ia tidak ingin melakukan apa-apa. Kemalasan ini akan menghalangi seseorang untuk berbuat baik.

Menurut para filsuf Kristen, kemalasan (acedia) adalah dosa besar yang ketujuh. Acedia berasal dari kata Yunani akҫdeia, yang berarti ‘acuh tak acuh’ atau ‘hilangnya perhatian’. Acedia konon hilang dari daftar dosa pada abad keenam di tangan Paus Gregorius. Acedia kini menjadi semacam gangguan jiwa yang ditandai oleh gejala-gejala fisik maupun psikologis.

Menurut Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya “Meraih Kebahagiaan” (2004:191), Stanford Lyman, seorang sosiolog, memasukkan kembali acedia dalam tujuh dosa besar-the seven deadly sin. Dia menguraikan gejala acedia ini secara terinci. Dia menganggapnya sebagai kejahatan sosial yang merugikan masyarakat. Secara fisik, kata Lyman, acedia menunjukkan kemalasan yang sangat: kelesuan, kelemahan, tidak menghiraukan pekerjaan.

Secara psikologis, acedia ditandai oleh sejumlah gejala yang berpusat pada tumpulnya perasaan (affectlessness), yang didefinisikan sebagai “hilangnya perasaan tentang diri atau yang lain, situasi jiwa yang menimbulkan rasa jenuh, bosan, apatis, dan pemikiran yang lambat atau pasif”. Tanpa perasaan berarti tidak mengenal kasih sayang, tidak punya rasa simpati, tidak bisa menunjukkan loyalitas dan tidak merasa memikul kewajiban—kepada diri sendiri dan orang lain.

Korban acedia terkatung-katung secara mental dan sosial. Pikirannya mengembara tanpa arah. Salah satu ciri acedia yang paling merusak adalah kebosanan. Menurut Lyman, kebosanan muncul dalam bentuk perasaan yang pedih karena seseorang merasakan kekosongan batin, yang disertai dengan kerinduan yang tidak jelas objeknya, dan merasa diubah dari keadaan kepada ketiadaan.

Sementara itu, Mihal Selzer menemukan gejala acedia ini pada kelompok pengikut pop culture pada tahun 70-an. Mereka adalah orang-orang yang mengejar kesenangan inderawi dan berakhir dalam apa yang dia sebut sebagai anorexia of experience, yakni ketidakmampuan untuk menyerap pengalaman, menerima komitmen, atau mempertahankan hubungan manusiawi di luar keperluan sekarang ini. Ketika mereka mengejar kesenangan, mereka terus-menerus menerima rangsangan inderawi. Lama-lama rangsangan itu tidak menimbulkan perasaan apa pun. Mereka menjadai kebal rasa. Semu hal jadi tampak tidak menarik. Maka, untuk mengaktifkan perasaan itu, tidak jarang mereka melakukan tindakan-tindakan kekerasan. Mereka harus menjerit, meloncat, meronta, menggelora atau melakukan tindakan-tindakan yang dramatis (2004:192).

Nico Frijda, seorang peneliti emosi dari Belanda, berkata, “terus-menerus kesenangan akan habis juga. Kesenangan selalu bergantung pada perubahan dan lenyap setelah terus-menerus dipuaskan.” Situasi lenyapnya kenikmatan menimbulkan acedia. Yang paling berat, stelah pemuasan kesenangan timbul kesedihan. Plato pernah mengatakan bahwa ajaib benar hal yang orang sebut sebagai kesenangan! Dan betapa aneh hubungannya dengan apa yang dianggap sebagai lawannya, derita! Ketika yang satu datang, yang lainnya ikut.

Tak mudah datangkan senjata api dalam jumlah besar
Menjelaskan relasi jiwa dan raga
Sentimen positif pada saham perbankan
Melestarikan eksistensi budaya Betawi
Calon dari PDIP kandidat kuat pendamping Gus Ipul
Fetching news ...