Readup

Memulai usaha besar dari hal kecil

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Memulai usaha besar dari hal kecil "Jika patah hati menuntun beberapa orang untuk menyilet tangan, menggantungkan diri, ..., patah hati justru menuntunku untuk berkelana menyusuri Indonesia!" - Fiersa Besari

Bulan April, tahun 2013, berawal dengan niat dan tujun  yang berbeda. Salah satunya karena hati yang terluka, tiga pengelana memulai sebuah perjalanan  menyusuri daerah-daerah di Indonesia. Lewat cara yang seru dan menantang, mereka tidak hanya menyaksikan langsung keindahan negeri ini; mereka juga harus menghadapi pertarungan dengan kegelisahan yang dibawa masing-masing.

“Arah Langkah’ bukan sekadar catatan perjalanan yang melukiskan keindahan alam, budaya, dan manusia lewat teks dan foto, tetapi juga memberikan cerita lain tentang kondisi negeri yang tidak selalu sebagus seperti di layar televisi. Meskipun begitu, semua daerah memang memiliki cerita yang berbeda-beda, namun di dalam perbedaan itu, cinta dan persahabatan selalu bisa ditemukan.

Bermula dari twitter saya mengenal sang penulis, yang setiap postingannya terkadang sangat menohok. Awalnya setiap ke toko buku selalu melihatnya dan tak terlintas ingin membeli karena memang sudah pernah membacanya dalam e-book. Tetapi, terukir Fiersa Besari sebagai penulisnya, yang membuatku tanpa pikir panjang untuk segera menebusnya ke meja kasir.

Menulis, bermusik, dan berkelana ke seluruh Indonesia membuat nama Fiersa Besari lambat laun muncul ke permukaan kerena karyanya yang begitu apik. Buku yang telah saya baca untuk kali keempat dari sederet buku yang ditulis oleh lelaki kelahiran Bandung tersebut, setelah buku sebelumnya Garis Waktu, Konspirasi Alam Semesta, Catatan Juang.

Buku terakhir yang ditulisnya merupakan kumpulan cerita perjalanan (memoir) si penulis bersama kedua sahabatnya yakni Prem dan Baduy. Tiga manusia berkelana menyusuri langkah demi langkah negeri ini yang begitu elok yang tak pernah kita sadari, bahwa di sanalah terdapat sepercik surga yang Tuhan turunkan di muka bumi. Akan sangat merugi jika kita hanya melihat pantai, gunung, keanekaragaman budaya, dan nilai historisnya, hanya dari layar kaca. 

Fiersa Besari atau biasa disapa Bung ini menuturkan kisah perjalanannya mengelilingi Indonesia dengan begitu apik dan mendalam. Perjalanan dan langkah yang dimulai karena patah hati dan luka yang tak kunjung sembuh memberikan makna dan pelajaran berharga kepada setiap pembaca. Buku ingin menguatkan seseorang dalam menyikapi keterpurukan.

Manusia pertama adalah mereka yang menyikapi keterpurukan dengan senantiasa bersedih, berlarut-larut dalam tangis dan sedu, bahkan menyakiti diri sendiri. Sementara itu, manusia kedua adalah mereka yang menyikapi keterpurukan dengan bangkit, introspeksi diri, dan berusaha melakukan hal-hal luar biasa dalam hidupnya, seakan ingin berkata, “Saya tidak akan pernah jatuh hanya karena kalian.”

Seperti pada kutipan, “Lucu, betapa patah hati bisa menuntun seseorang melakukan hal-hal dramatis dalam hidupnya. Jika patah hati menuntun beberapa orang untuk menyilet tangan, menggantungkan diri, atau memaki di status media sosial, patah hati justru menuntunku untuk berkelana menyusuri Indonesia! Pekik bangga.” [Hal.6]

Fiersa dengan segala kisahnya adalah tipe manusia kedua, walau ia belum menyadarinya sejak awal. Sungguh, buku ini bakal begitu menggugah para pembaca. Siapa pun yang membaca buku ini akan bisa banyak belajar, terutama dalam menyikapi keterpurukan dan kesedihan dalam hidup.

Dari buku ini kita belajar bahwa hidup itu menyenangkan kalau kita melihat dari sudut pandang yang tepat. Bahagia cuma akan menjadi rumit jika kita terlalu berharap. Yang terpenting, buku ini juga menceritakan betapa hidup ini tidak mudah, banyak kelok, banyak tanjakan, banyak rintangan, yang jika kita tidak berusaha kuat melaluinya, kita akan kalah, kalah pada kehidupan.

Satu lagi, tanpa mengesampingkan pesan-pesan sebelumnya. Buku ini pun berusaha menggambarkan indahnya negeri ini, yang sedang menunggu kita telusuri. Seakan ingin berkata, “Indonesia indah, sayang jika kita hanya duduk diam di rumah. Maka, berkelanalah!!”

Namun, sayangnya ada beberapa kelemahan di balik penulisan buku “Arah Langkah” ini masih banyak ditemukan kosa kata yang kurang baku, dan penyuguhan alur atau plot yang tidak jelas sehingga ceritanya terkesan menggantung.

Buku ini menurut saya ajaib dan keren dibandingkan beberapa buku lain tentang traveler backpacker atau yang pada intinya petualangan. Membaca buku ini, serasa ikut Bung, Prem dan Baduy berkelana menyusuri seperti apa Indonesia, seperti apa wajah kehidupan Indonesia beserta keanekaragaman budaya dan pola pikir masyarakat setempat yang dikemas dalam catatan perjalanan yang berjudul “Arah Langkah”.

Buku ini sangat recommended untuk dibaca dan dijadikan sebagai koleksi bagi para pembaca, apalagi yang punya keinginan dan cita-cita keliling Indonesia.

Peresensi:       Rizki Anti Aulia
Judul:               Arah Langkah
Penulis:            Fiersa Besari
Penerbit:          Media Kita
Editor:              Juliagar R. N.
Tahun terbit:     Mei 2018
Halaman:         300; 13x19 cm
Harga (Jawa):  Rp88.000,-

 

PKS minta kader belajar dari kemenangan Erdogan
Usir jerawat dengan kulit semangka
Gerindra daftarkan mantan koruptor di Pileg 2019
Ngabalin jadi komisaris Angkasa Pura, Fadli: BUMN amburadul
Bumi Manusia bukan sekadar cinta Minke dan Annelies
Politisi berbondong-bondong ke NasDem, ada apa?
Politisi terima uang transfer untuk pindah partai harus lapor KPK
Riza Chalid penampakan di acara NasDem, sudah aman?
Golkar ngotot daftarkan caleg mantan napi korupsi
Nikmati empat hari Festival Bunaken
Film ’22 Menit’ hadir di Anugrah Jurnalistik Polri 2018
Etika politik dan pindah partai
Dukung pilkada damai, Polri gelar Anugrah Jurnalistik 2018
Jokowi belum temukan solusi akurkan SBY-Megawati
KPK buru tangan kanan Bupati Labuhanbatu
Fetching news ...